Selamat Datang di Makassar


Makassar adalah Ibu Kota Sulawesi Selatan. Kota ini memiliki banyak tempat menarik, pulau-pulau eksotis, pantai yang indah, kesenian yang atraktif, hiburan, dan kuliner khas. Makassar juga merupakan pintu gerbang wisata lainnya di Sulawesi, seperti Tana Toraja, Bunaken, dan Wakatobi.

Makassar dapat dijangkau melalui udara atau laut. Banyak penerbangan langsung ke Makassar, satu jam dari Bali dan Surabaya, dua jam dari Jakarta. dan tiga jam dari Kuala Lumpur. Info selengkapnya
Showing posts with label Wisata Sejarah Gowa. Show all posts
Showing posts with label Wisata Sejarah Gowa. Show all posts

Benteng Somba Opu

ILMUWAN Inggris, William Wallace, menyatakan, Benteng Somba Opu adalah benteng terkuat yang pernah dibangun orang nusantara. Benteng ini adalah saksi sejarah kegigihan Sultan Hasanuddin serta rakyatnya mempertahankan kedaulatan negerinya.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT BENTENG SOMBA OPU

Benteng Somba Opu mulai dibangun pada tahun 1525 saat kepemimpinan Raja Gowa IX, Tumapa'risi Kallona (1510-1546). Benteng ini pertama kali dibangun dengan tanah liat. Berfungsi menjadi kota raja. Di dalamnya dibangun istana raja, rumah para bangsawan, rumah para pegawai kerajaan, dan pusat perdagangan.

Saat itu, wilayah di mana Benteng Somba Opu berdiri(Makassar), adalah salah satu kota bandar terbesar di Asia, yang menguasai urat nadi perdagangan Asia-Pasifik. Bandar raya Makassar menjadi hub internasional yang dipenuhi oleh kapal-kapal phinisi dan kapal-kapal dagang asing dari Arab dan Cina.

Pada masa kepemimpinan Raja Gowa X, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1546-1565), bangunan Benteng Somba Opu dirombak. Dari tanah liat menjadi bangunan batu bata. Perekatnya bukan semen melainkan putih telur. Sejak saat itu, Benteng Somba Opu menjadi benteng yang sangat kuat.

Sementara itu, tahun 1596 orang-orang Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman menginjakkan kakinya di pelabuhan Banten. Enam tahun kemudian, VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) didirikan. Perserikatan dagang Belanda itu masuk Sulawesi tahun 1607. Pada tahun 1615, VOC meminta hak monopoli. Tapi Sultan Gowa menolaknya.

Perang Makassar berkecamuk antara tahun 1655 sampai 1669. Saat itu Kerajaan Gowa dipimpin I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangappe yang bergelar Sultan Hasanuddin. Perang terjadi karena VOC memaksa monopoli jalur dagang nusantara. Sultan Hasanuddin yang menolak agresi itu mengobarkan perlawanan sengit.

Memasuki pertengahan tahun 1669, pasukan Gowa terdesak dan melawan habis-habisan dari dalam benteng. Benteng itu sendiri tidak bisa direbut. Bola-bola besi yang dimuntahkan moncong meriam Belanda tak mampu menjebol dindingnya. Namun pengepungan dan isolasi total terhadap Benteng Somba Opu akhirnya membuat pasukan Gowa lemah.

Jumat, 24 Juni 1669, karena ribuan rakyatnya terancam mati di dalam benteng, Sultan Hasanuddin terpaksa menerima opsi menyerah dengan menandatangani sebuah perjanjian di Bungaya, daerah di sebelah utara benteng. Karena itu disebut Perjanjian Bungaya. Isinya menegaskan hak monopoli Belanda.

Usai perjanjian itu, seluruh orang pribumi hengkang dari Somba Opu. Banyak pula yang dihukum mati. Tahun itu Gowa mulai memasuki era kolonialisme, menyusul wilayah lain di nusantara yang telah lebih dulu jatuh ke dalam kekuasaan Belanda.

Setelah kekalahan pasukan Gowa, Benteng Somba Opu dihancurkan. Puing-puing benteng itu baru ditemukan kembali oleh sejumlah arkeolog pada tahun 1980-an. Dinding-dindingnya terbenam di dalam tanah. Secara umum kondisinya mengenaskan. Tahun 1990, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk melakukan penggalian.


Referensi
www.depdagri.go.id
www.indonesia.go.id
www.kompas.com
Baca Selanjutnya...

Istana Tamalate dan Balla Lompoa

ISTANA Tamalate dan Balla Lompoa adalah sisa-sisa Istana Kerajaan Gowa yang sekarang berfungsi sebagai museum. Di dalamnya terdapat berbagai harta pusaka peninggalan Kerajaan Gowa pada zaman keemasannya.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT KESULTANAN GOWA

Kerajaan Gowa berdiri pada awal abad XIV, sekitar tahun 1300-an. Raja pertama adalah seorang perempuan bernama Tumanurung (1320-1345). Sejak didirikan, pusat Kerajaan Gowa terletak di bukit Takabassia yang kemudian berubah nama menjadi Tamalate. Di tempat itulah Istana Tamalate dibangun.

Tamalate menjadi kota raja sampai Raja Gowa VIII, I Pakere Tau Tunijallo Ri Pasukki (1460-1510). Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Mangnguntungi yang bergelar Tumapa'risi Kallona (1510-1546), membangun benteng Somba Opu dan memindahkan kota raja dari Tamalate ke dalam benteng.

Tapi pada tahun 1667, Benteng Somba Opu dihancurkan oleh Belanda menyusul kekalahan pasukan Gowa di bawah kepemimpinan Raja Gowa I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangappe yang bergelar Sultan Hasanuddin (1653-1669). Sejak saat itu, Kerajaan Gowa mengalami kemunduran.

Raja-raja Gowa setelahnya tidak memiliki istana yang baik. Bahkan Raja Gowa XXIX, Andi Makkulau, mempergunakan rumahnya sebagai istana. Banyak harta benda Kerajaan Gowa yang hilang. Sebagian yang bisa diselamatkan disimpan di rumah Andi Makkulau.

Barulah pada tahun 1936, Kerajaan Gowa membangun istana lagi, yaitu Balla Lompoa, di Sungguminasa. Istana ini dibangun pada masa Raja Gowa XXXI, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu, dan ditempati sampai Raja Gowa XXXII, A Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang, yang bergelar Sultan Muhammad Kadir Aidir.

Tahun 1945 terbentuk Negara Republik Indonesia (RI). Era raja-raja di nusantara berakhir. Wilayah Kerajaan Gowa pun secara resmi masuk ke dalam wilayah RI. Tidak ada Raja Gowa lagi setelah Sultan Muhammad Kadir Aidir. Putranya, Andi Kumala Idjo, pun hanya putra mahkota dan tidak pernah diangkat menjadi raja hingga sekarang.


Referensi
www.kompas.com
www.budaya.sulsel.go.id

Sumber foto
www.geocities.com
Baca Selanjutnya...

Masjid Katangka, Masjid Tertua di Sulawesi

MASJID ini bernama Masjid Al-Hilal, satu dari sekian banyak jejak penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah Kesultanan Gowa. Kendati telah berusia empat abad, masjid ini masih kokoh berdiri.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT MASJID KATANGKA

Sejarahwan belum sependapat mengenai tahun pembangunan Masjid Al Hilal di Katangka ini. Sebagian berpendapat masjid ini dibangun tahun 1603 atau lima tahun sebelum Islam menjadi agama resmi Kerajaan Gowa, sebagian lagi berpendapat masjid tersebut merupakan karya abad XVIII.

Bagaimana pun, tidak banyak tersedia catatan sejarah mengenai masjid ini. Kisah seputar pembangunan masjid lebih banyak dituturkan dari mulut ke mulut, terutama oleh juru kunci masjid yang mewarisi kisah itu dari juru-juru kunci sebelumnya.

Namun jika benar dibangun pada tahun 1903, tentulah punya kaitan erat dengan proses penyebaran agama Islam di wilayah Kesultanan Gowa. Para juru kunci menuturkan, pendiri Masjid Katangka adalah Abdul Makmur, satu dari tiga ulama Minangkabau yang melakukan syiar Islam di Sulawesi Selatan. Oleh masyarakat Makassar, Abdul Makmur dijuluki Dato Ri Bandang atau Daeng Bandang.

Berdasarkan tahun pembuatannya, masjid ini didirikan pada masa Raja Gowa Raja Gowa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabia. Setelah masuk Islam ia dijuluki Sultan Alauddin, kakek dari Sultan Hasanuddin. Katangka adalah nama sebuah pohon besar yang sebelum masjid ini didirikan kerap dijadikan tempat salat oleh para saudagar muslim Melayu, India, dan Arab.


Referensi
www.kompas.com
www.republika.com
Baca Selanjutnya...

Makam Sultan Hasanuddin

SULTAN Hasanuddin adalah satu dari sekian banyak Raja Gowa yang mengalami masa paling pahit. Pada masanya, Gowa ditaklukkan dalam penjajahan. Ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk melawan. Makamnya ada di daerah Katangka.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT SULTAN HASANUDDIN

Sultan Hasanuddin (1631-1670) adalah Raja Gowa XVI. Ia mengalami masa terpahit dalam sejarah Kerajaan Gowa karena harus takluk terhadap Belanda untuk kepentingan monopoli dagang VOC. Namun karena keberaniannya, Sultan Hasanuddin dijuluki de haantjes van het oosten (ayam jantan dari timur).

Lahir pada 11 Januari 1631 di lingkungan kerajaan dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangeppe. Ia menggantikan ayahnya, Sultan Malikussaid, sebagai Raja Gowa pada usia 18 tahun dan mendapatkan gelar Sultan Hasanuddin.

Saat Sultan Hasanuddin naik tahta, VOC sedang berusaha menaklukkan kerajaan-kerajaan nusantara. Gowa dengan bandarnya yang besar menguasai jalur perdagangan. Belanda menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil untuk merebut Gowa. Mengambil manfaat dari perseteruan antarkerajaan itu, termasuk perseteruan Gowa dengan Bone.

Perang Makassar berkecamuk pada tahun 1655 sampai 1669. Kota ini sulit ditembus dari laut karena dilindungi oleh 17 benteng. Tetapi memasuki pertengahan tahun 1669, pasukan Gowa terjepit. Digempur dari laut oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Cornelis Speelman dan diserang dari darat oleh pasukan Kerajaan Bone pimpinan Aru Palaka.

Sultan Hasanuddin melawan habis-habisan dari Benteng Somba Opu. Karena isolasi total terhadap benteng, ribuan rakyatnya terancam mati. Ia pun terpaksa menerima opsi menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667. Dari 29 pasal, seluruhnya hanya menegaskan monopoli VOC.

Tahun 1669, Sultan Hasanuddin menanggalkan tahta dan diserahkan kepada putranya, I Mappasomba Daeng Nguraga Tumenanga ri Allu yang bergelar Sultan Amir Hamzah. Kemudian ia maju berperang bersama rakyatnya melawan Belanda dengan semboyan, "Lebih baik hancur lebur daripada dijajah orang."

Sultan Hasanuddin wafat di Gowa pada tanggal 12 Juni 1670 setelah menderita penyakit ari-ari. Jazadnya dimakamkan di Bukit Tinggimae pada lokasi bekas Istana Tamalate, kota raja pertama Kerajaan Gowa.


Sumber:
www.budaya.sulsel.go.id
www.indonesia.go.id

Baca Selanjutnya...

Makam Syeh Yusuf

SYEH Yusuf adalah pejuang multiras, multi negara, dan penganjur agama Islam yang gigih. Makamnya memiliki ciri makan tua. Uniknya, makam Syeh Yusuf di Gowa adalah satu dari lima versi makamnya yang lain yang tersebar di tiga negara.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT SYEH YUSUF

Syeh Yusuf lahir di Tallo (Makassar) pada 13 Juli 1626 (8 Syawal 1036 Hijriah). Nama kecilnya adala Muhammad Yusuf. Ibundanya bernama Aminah, puteri dari Gallarang, Moncongloe, Gowa. Sedangkan siapa ayahnya,sejarahwan masih memperdebatkannya hingga sekarang.

Saat ia lahir, Islam telah menjadi agama resmi Kesultanan Gowa. Keluarga Aminah adalah rakyat jelata. Kehidupan Yusuf kecil terangkat ketika ibunya itu dinikahi Sultan Alauddin, Sultan Gowa XIV. Ia mendapatkan pendidikan agama hingga dewasa dan menjadi penganjur Islam yang gigih.

Yusuf remaja adalah seorang yang pintar. Karena itu ia menjadi pengajar dan memiliki banyak murid. Ia juga seorang idealis yang antikolonialisme. Saat itu, VOC (Verenidge Oost-Indische Compagnie) atau Serikat Dagang Hindia Timur sedang gencar memonopoli perdagangan di nusantara, termasuk di Gowa. Suaranya lantang menentang Belanda.

Pada usia 18 tahun ia naik haji. Sepulang dari Mekah, ia singgah di Banten. Ia mengulangi kunjungannya pada tahun 1672 dan memutuskan untuk berjuang bersama Sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, melawan VOC setelah negerinya, Gowa, lebih dulu diporakporandakan.

Syeh Yusuf masih terus melawan bahkan ketika Sultan Ageng Tirtayasa telah dilumpuhkan. Pada 14 Desember 1683 barulah ia ditangkap di Sukapura, Tasikmalaya, dan diasingkan ke Batavia. September 1684, ia diasingkan ke Srilanka. Syeh Yusuf tak kapok, ia masih terus melawan Belanda di Srilanka. Juli 1993, ia bersama 49 pengikutnya dibuang lebih jauh lagi, ke Afrika Selatan.

Meski sudah jauh dari tanah kelahiran, Syeh Yusuf tetap melanjutkan aktifitasnya. Di tempat itu dia dan muridnya mengembangkan ajaran agama Islam. Selama enam tahun di Afrika Selatan, dia menghabisi sisa hidupnya dengan mengajarkan keadilan dan kedamaian. Berjuang bersama rakyat setempat melawan penjajahan di sana.

Syeh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699 di usia 73 tahun. Sultan Banten dan Sultan Gowa berebut meminta Belanda untuk menguburkan jenazahnya. Pada 5 April 1704, peti yang membawa jenazah Syeh Yusuf tiba di Makassar dan segera dimakamkam di Lakiung, Gowa. Tapi benarkah itu jazad Syeh Yusuf yang terbaring? Sebab, makam Syeh Yusuf juga ada di Banten, Madura, Srilanka, dan Cape Town. Tuhan maha tahu.


Referensi:
www.myrmnews.com
www.republika.com
khalwatiyah-syekh-yusuf.or.id

Baca Selanjutnya...

Labels


  © Blogger template 'Contemplation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP