Selamat Datang di Makassar


Makassar adalah Ibu Kota Sulawesi Selatan. Kota ini memiliki banyak tempat menarik, pulau-pulau eksotis, pantai yang indah, kesenian yang atraktif, hiburan, dan kuliner khas. Makassar juga merupakan pintu gerbang wisata lainnya di Sulawesi, seperti Tana Toraja, Bunaken, dan Wakatobi.

Makassar dapat dijangkau melalui udara atau laut. Banyak penerbangan langsung ke Makassar, satu jam dari Bali dan Surabaya, dua jam dari Jakarta. dan tiga jam dari Kuala Lumpur. Info selengkapnya
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Wisata Sejarah. Show all posts

Benteng Somba Opu

ILMUWAN Inggris, William Wallace, menyatakan, Benteng Somba Opu adalah benteng terkuat yang pernah dibangun orang nusantara. Benteng ini adalah saksi sejarah kegigihan Sultan Hasanuddin serta rakyatnya mempertahankan kedaulatan negerinya.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT BENTENG SOMBA OPU

Benteng Somba Opu mulai dibangun pada tahun 1525 saat kepemimpinan Raja Gowa IX, Tumapa'risi Kallona (1510-1546). Benteng ini pertama kali dibangun dengan tanah liat. Berfungsi menjadi kota raja. Di dalamnya dibangun istana raja, rumah para bangsawan, rumah para pegawai kerajaan, dan pusat perdagangan.

Saat itu, wilayah di mana Benteng Somba Opu berdiri(Makassar), adalah salah satu kota bandar terbesar di Asia, yang menguasai urat nadi perdagangan Asia-Pasifik. Bandar raya Makassar menjadi hub internasional yang dipenuhi oleh kapal-kapal phinisi dan kapal-kapal dagang asing dari Arab dan Cina.

Pada masa kepemimpinan Raja Gowa X, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng (1546-1565), bangunan Benteng Somba Opu dirombak. Dari tanah liat menjadi bangunan batu bata. Perekatnya bukan semen melainkan putih telur. Sejak saat itu, Benteng Somba Opu menjadi benteng yang sangat kuat.

Sementara itu, tahun 1596 orang-orang Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman menginjakkan kakinya di pelabuhan Banten. Enam tahun kemudian, VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie) didirikan. Perserikatan dagang Belanda itu masuk Sulawesi tahun 1607. Pada tahun 1615, VOC meminta hak monopoli. Tapi Sultan Gowa menolaknya.

Perang Makassar berkecamuk antara tahun 1655 sampai 1669. Saat itu Kerajaan Gowa dipimpin I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangappe yang bergelar Sultan Hasanuddin. Perang terjadi karena VOC memaksa monopoli jalur dagang nusantara. Sultan Hasanuddin yang menolak agresi itu mengobarkan perlawanan sengit.

Memasuki pertengahan tahun 1669, pasukan Gowa terdesak dan melawan habis-habisan dari dalam benteng. Benteng itu sendiri tidak bisa direbut. Bola-bola besi yang dimuntahkan moncong meriam Belanda tak mampu menjebol dindingnya. Namun pengepungan dan isolasi total terhadap Benteng Somba Opu akhirnya membuat pasukan Gowa lemah.

Jumat, 24 Juni 1669, karena ribuan rakyatnya terancam mati di dalam benteng, Sultan Hasanuddin terpaksa menerima opsi menyerah dengan menandatangani sebuah perjanjian di Bungaya, daerah di sebelah utara benteng. Karena itu disebut Perjanjian Bungaya. Isinya menegaskan hak monopoli Belanda.

Usai perjanjian itu, seluruh orang pribumi hengkang dari Somba Opu. Banyak pula yang dihukum mati. Tahun itu Gowa mulai memasuki era kolonialisme, menyusul wilayah lain di nusantara yang telah lebih dulu jatuh ke dalam kekuasaan Belanda.

Setelah kekalahan pasukan Gowa, Benteng Somba Opu dihancurkan. Puing-puing benteng itu baru ditemukan kembali oleh sejumlah arkeolog pada tahun 1980-an. Dinding-dindingnya terbenam di dalam tanah. Secara umum kondisinya mengenaskan. Tahun 1990, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk melakukan penggalian.


Referensi
www.depdagri.go.id
www.indonesia.go.id
www.kompas.com
Baca Selanjutnya...

Benteng (Fort) Rotterdam

ORANG Makassar zaman dulu menjuluki benteng ini panyua yang berarti penyu. Arsitektur Benteng Fort Rotterdam memang unik, menyerupai penyu menghadap ke Selat Makassar. Kondisi benteng yang dibangun abad ke-16 itu masih kokoh dan terawat baik.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT FORT ROTTERDAM

Benteng Fort Rotterdam awalnya bernama Benteng Ujungpandang (Jumpandang). Dibangun pada masa Raja Gowa IX, Tumapa'risi Kallona, pada tahun 1545 atau setahun sebelum perombakan Benteng Somba Opu dilakukan. Benteng ini dibangun menghadap langsung ke Selat Makassar.

Pembangunan Benteng Ujungpandang baru selesai saat Gowa dipimpin Tunipalangga Ulaweng, Raja Gowa X. Sama seperti Benteng Somba Opu, Benteng Ujungpandang awalnya adalah benteng tanah liat. Jika Benteng Somba Opu berfungsi sebagai kota raja, Benteng Ujungpandang berfungsi sebagai basis militer.

Pada tahun 1634, Raja Gowa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabia yang bergelar Sultan Alauddin, menyempurnakan bangunan Benteng Ujungpandang menjadi benteng tembok. Setahun kemudian menambah dinding di pintu gerbang sehingga menyerupai bentuk seekor penyu. Oleh orang Makassar saat itu, benteng ini dijuluki panyua.

Sebagai negeri maritim yang langsung menghadap laut, para Raja Gowa sadar akan pentingnya sistem pertahanan. Benteng Ujungpandang adalah satu dari 17 benteng yang dibangun berjajar sepanjang garis pantai Makassar. Beberapa yang lain seperti Benteng Panakukkang, Benteng Anak Gowa, dan Benteng Barombong.

48 tahun setelah VOC (Verenidge Oost-Indische Compagnie)membenamkan pengaruhnya di Sulawesi, pecah Perang Makassar. Perang besar itu berkecamuk antara tahun 1655 hingga 1669. Perlawanan terhadap VOC yang ingin memonopoli perdagangan nusantara dipimpin oleh Raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangappe yang bergelar Sultan Hasanuddin.

Benteng Ujungpandang direbut oleh VOC pada hari Selasa, 18 Nopember 1667. Pasukan Gowa yang masih hidup lari dan bergabung di Benteng Somba Opu yang terletak di sebelah selatan Benteng Ujungpandang. Dua tahun kemudian, Sultan Hasanuddin yang bertahan di dalam Benteng Somba Opu kalah dan menandatangani Perjanjian Bungaya.

Setelah kekalahan itu, 16 benteng yang dimiliki Kerajaan Gowa dihancurkan. Termasuk Benteng Somba Opu. VOC hanya menyisakan satu benteng, yaitu Benteng Ujungpandang yang dijadikan sebagai basis militer mereka. Oleh pemimpin pasukan Belanda, Admiral Cornelis Janszoon Speelman, nama Benteng Ujungpandang diganti menjadi Fort Rotterdam.


Referensi:
www.indonesia.go.id
www.budaya.sulsel.go.id

Baca Selanjutnya...

Istana Tamalate dan Balla Lompoa

ISTANA Tamalate dan Balla Lompoa adalah sisa-sisa Istana Kerajaan Gowa yang sekarang berfungsi sebagai museum. Di dalamnya terdapat berbagai harta pusaka peninggalan Kerajaan Gowa pada zaman keemasannya.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT KESULTANAN GOWA

Kerajaan Gowa berdiri pada awal abad XIV, sekitar tahun 1300-an. Raja pertama adalah seorang perempuan bernama Tumanurung (1320-1345). Sejak didirikan, pusat Kerajaan Gowa terletak di bukit Takabassia yang kemudian berubah nama menjadi Tamalate. Di tempat itulah Istana Tamalate dibangun.

Tamalate menjadi kota raja sampai Raja Gowa VIII, I Pakere Tau Tunijallo Ri Pasukki (1460-1510). Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Mangnguntungi yang bergelar Tumapa'risi Kallona (1510-1546), membangun benteng Somba Opu dan memindahkan kota raja dari Tamalate ke dalam benteng.

Tapi pada tahun 1667, Benteng Somba Opu dihancurkan oleh Belanda menyusul kekalahan pasukan Gowa di bawah kepemimpinan Raja Gowa I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangappe yang bergelar Sultan Hasanuddin (1653-1669). Sejak saat itu, Kerajaan Gowa mengalami kemunduran.

Raja-raja Gowa setelahnya tidak memiliki istana yang baik. Bahkan Raja Gowa XXIX, Andi Makkulau, mempergunakan rumahnya sebagai istana. Banyak harta benda Kerajaan Gowa yang hilang. Sebagian yang bisa diselamatkan disimpan di rumah Andi Makkulau.

Barulah pada tahun 1936, Kerajaan Gowa membangun istana lagi, yaitu Balla Lompoa, di Sungguminasa. Istana ini dibangun pada masa Raja Gowa XXXI, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu, dan ditempati sampai Raja Gowa XXXII, A Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang, yang bergelar Sultan Muhammad Kadir Aidir.

Tahun 1945 terbentuk Negara Republik Indonesia (RI). Era raja-raja di nusantara berakhir. Wilayah Kerajaan Gowa pun secara resmi masuk ke dalam wilayah RI. Tidak ada Raja Gowa lagi setelah Sultan Muhammad Kadir Aidir. Putranya, Andi Kumala Idjo, pun hanya putra mahkota dan tidak pernah diangkat menjadi raja hingga sekarang.


Referensi
www.kompas.com
www.budaya.sulsel.go.id

Sumber foto
www.geocities.com
Baca Selanjutnya...

Masjid Katangka, Masjid Tertua di Sulawesi

MASJID ini bernama Masjid Al-Hilal, satu dari sekian banyak jejak penyebaran agama Islam di Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah Kesultanan Gowa. Kendati telah berusia empat abad, masjid ini masih kokoh berdiri.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT MASJID KATANGKA

Sejarahwan belum sependapat mengenai tahun pembangunan Masjid Al Hilal di Katangka ini. Sebagian berpendapat masjid ini dibangun tahun 1603 atau lima tahun sebelum Islam menjadi agama resmi Kerajaan Gowa, sebagian lagi berpendapat masjid tersebut merupakan karya abad XVIII.

Bagaimana pun, tidak banyak tersedia catatan sejarah mengenai masjid ini. Kisah seputar pembangunan masjid lebih banyak dituturkan dari mulut ke mulut, terutama oleh juru kunci masjid yang mewarisi kisah itu dari juru-juru kunci sebelumnya.

Namun jika benar dibangun pada tahun 1903, tentulah punya kaitan erat dengan proses penyebaran agama Islam di wilayah Kesultanan Gowa. Para juru kunci menuturkan, pendiri Masjid Katangka adalah Abdul Makmur, satu dari tiga ulama Minangkabau yang melakukan syiar Islam di Sulawesi Selatan. Oleh masyarakat Makassar, Abdul Makmur dijuluki Dato Ri Bandang atau Daeng Bandang.

Berdasarkan tahun pembuatannya, masjid ini didirikan pada masa Raja Gowa Raja Gowa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabia. Setelah masuk Islam ia dijuluki Sultan Alauddin, kakek dari Sultan Hasanuddin. Katangka adalah nama sebuah pohon besar yang sebelum masjid ini didirikan kerap dijadikan tempat salat oleh para saudagar muslim Melayu, India, dan Arab.


Referensi
www.kompas.com
www.republika.com
Baca Selanjutnya...

Gereja Katedral Makassar

KOTA Makassar memiliki prestasi baik dalam hal toleransi beragama. Meski mayoritas warga kota ini adalah muslim, Kristiani tetap tumbuh subur. Gereja Katedral Makassar adalah gereja tertua di Sulawesi dan sekaligus menjadi simbol dari toleransi itu.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT GEREJA KATEDRAL MAKASSAR

Ketika Sultan Hasanuddin berkuasa di Kesultanan Gowa, terjadi migrasi warga asing dari Malaka setelah benteng portugis di sana runtuh. Tahun 1658, Pastor Fernendez Navarette masuk Makassar. Ia adalah pastor pertama di kota ini. Fernandez diperlakukan dengan baik oleh pejabat kerajaan dan mendapat keleluasaan menjalankan tugasnya.

Pada bulan Juni 1669, pasukan Gowa terjepit oleh pasukan Belanda di Benteng Somba Opu. Sultan Hasanuddin terpaksa menerima opsi menyerah dengan menandatangani Perjanjian Bungaya. Isi perjanjian itu menegaskan hak monopoli VOC (Verenidge Oost-Indische Compagnie), serikat dagang Belanda di Hindia timur.

Fernandez mengalami kesulitan akibat perjanjian itu. Sebab, Belanda memaksa Sultan Hasanuddin mengusir warga asing selain Belanda. Umat Katolik tidak bebas lagi menjalankan kegiatan. Barulah pada tahun 1806, kebebasan beragama dapat dirasakan lagi di Makassar. Saat itu, negeri Belanda ditaklukkan oleh Napoleon Bonaparte.

Tahun 1892, Pastor A Asselbergs SJ menetap di Makassar dan menyewa salah satu rumah di Heerenweg (kini Jl Sultan Hasanuddin) untuk digunakan sebagai tempat kebaktian. Pada 1895 ia membeli sebidang tanah di Komedistraat (kini Jl Kajaolalido). Enam tahun kemudian, Sultan Qadir Aiddin, Raja Gowa XXXII, mengizinkan pembangunan gereja di lokasi itu. Sekarang ini menjadi Gereja Katedral Makassar.

Pada 13 April 1937, wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara dijadikan Prefektur Apostolik Makassar oleh Sri Paus di Roma. Prefektur ini dipercayakan kepada misionaris Celebes Mission dengan Mgr Martens sebagai prefek. Pada 13 Mei 1948 menjadi Vikariat Apostolik Makassar dan 3 Januari 1961 menjadi Keuskupan Agung Makassar.

Pada tahun 1943, Kota Makassar dibombardir tentara Sekutu. Akibatnya, beberapa bagian gereja rusak. Para dermawan mengucurkan bantuan untuk memperbaiki dengan mengirimkan kaca jendela glasir berwarna yang memberikan nuansa khas katedral.


Referensi
Suara Pembaruan
www.geocities.com

Baca Selanjutnya...

Makam Datu Ri Bandang

WAJAH Makassar dan kebudayaan yang terbentuk hingga saat ini tidak lepas dari peran seorang ulama Minangkabau, Dato Ri Bandang. Ulama inilah yang memperkenalkan orang Makassar kepada Islam. Jazad ulama besar ini pula terbaring di Makassar.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT DATO RI BANDANG

Nama asli Dato Ri Bandang adalah Abdul Makmur. Ia adalah ulama Minangkabau, tepatnya berasal dari Kota Tengah, Padang Barat (Sumatera Barat), yang tiba di Makassar pada bulan September 1605. Misinya datang ke Makassar adalah menyebarkan syariat Islam.

Dato Ri Bandang datang bersama dua ulama Minangkabau lainnya, yaitu Sulaiman yang dijuluk Dato Patimang dan Abdul Jawad yang dijuluk Dato Di Tiro. Atas dasar pemahaman terhadap wilayah-wilayah kekuasaan para raja di daerah ini, ketiga dato ini menyebar. Dato Ri Bandang menetap di Makassar. Sedangkan Datu Patimang dan Dato Di Tiro pergi ke ke Luwu dan Bone.

Hanya butuh waktu dua tahun bagi Dato Ri Bandang untuk berinteraksi di Makassar. Pada tahun 1907, Mangkubumi Tallo, I Mallingkang Daeng Manyonri Karaeng Katangka, memeluk Islam. Disusul kemudian oleh Raja Gowa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabia, yang kemudian bergelar Sultan Alauddin.

Pada hari Jumat, 9 November 1607, untuk pertama kalinya rakyat Tallo menggelar salat Jumat, sekaligus sebagai deklarasi bahwa Islam telah menjadi agama resmi Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo). Masjid di mana salat Jumat pertama itu digelar saat ini masih kokoh berdiri. Hingga tahun 1611 seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan resmi memeluk agama Islam.

Ada tiga masjid yang terkait dengan keberadaan Dato Ri Bandang sekaligus menjadi saksi sejarah pengislaman Makassar, yaitu Masjid Tallo di wilayah Kecamatan Tallo, Masjid Makmur Melayu di Jl Sulawesi, dan Masjid Katangka di Jl Syeh Yusuf.

Baca Selanjutnya...

Makam Raja-raja Tallo

MAKASSAR berkembang dari sebuah wilayah kecil bernama Tallo. Di wilayah inilah jazad para pendiri Makassar terbaring. Jika ingin menapak tilas dan memahami arti penting Makassar dalam sejarah peradaban nusantara, datanglah ke Tallo.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT KERAJAAN TALLO

Sebelum tahun 1460, daerah yang sekarang disebut Tallo itu merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Gowa. Pada masa Raja Gowa VI, Tunatangka Lopi (1445-1460), kerajaan ini dibagi menjadi dua yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Pemisahan terjadi karena Tunatangka Lopi memiliki dua anak yang sama-sama ingin berkuasa.

Setelah Tunatangka Lopi meninggal dunia, Tuniawanga Ri Paralekkanna meneruskan tahta ayahnya sebagai Raja Gowa VII. Sementara saudaranya, Karaeng Loe Ri Sero, menjadi Raja Tallo yang pertama. Selama hampir satu abad, dua kerajaan ini berjalan sendiri-sendiri.

Pada masa Raja Gowa IX, Daeng Matanre Karaeng Mangnguntungi yang bergelar Tumapa'risi Kallona (1510-1546), dua kerajaan ini disatukan kembali. Wilayah Tallo kembali menjadi bagian dari Kerajaan Gowa. Ibu Kota kerajaan ini berada di dalam Benteng Somba Opu.

Namun Raja Tallo tetap memegang kekuasaan atas wilayahnya sendiri sebagai mangkubumi. Sistem ketatanegaraan dibentuk sedemikian rupa sehingga tidak menghilangkan sama sekali kekuasaan Raja Tallo. Sejak saat itu, orang sering menyebut Gowa Tallo secara bersama-sama sebagai Kerajaan Makassar.

Tallo berperan besar sebagai kota bandar bagi kerajaan Gowa. Menjadi simpul perdagangan Asia-Pasifik bersama kota bandar Sunda Kelapa di Pulau Jawa sebelum akhirnya diporakporandakan oleh VOC yang berhasil memonopoli jalur perdagangan di nusantara.

Pada akhir abad XVI, agama Islam masuk. Mangkubumi Tallo, I Mallingkang Daeng Manyonri Karaeng Katangka, adalah orang pertama yang memeluk agama Islam. Langkah ini disusul oleh Raja Gowa XIV, I Mangngarangi Daeng Manrabia. Selanjutnya, Kerajaan Gowa mengambil bentuk kesultanan dan memberikan I Mangngarangi gelar Sultan Alauddin. Ia adalah kakek Sultan Hasanuddin.

Pada hari Jumat, 9 November 1607, Mangkubumi Tallo menggelar salat Jumat pertama di Masjid Tallo. Pelaksanaan salat Jumat ini adalah sekaligus sebagai deklarasi bahwa Islam telah menjadi agama resmi Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo). Masjid di mana salat Jumat pertama itu digelar saat ini masih kokoh berdiri. Tentu dengan beberapa kali renovasi.

Para sejarahwan di Sulawesi Selatan bersepakat, 9 November 1607 adalah hari jadi Kota Makassar. Sementara jazad para Raja dan Mangkubumi Tallo dimakamkan dalam satu kompleks, tak jauh dari masjid tempat salat Jumat pertama diselenggarakan.

Baca Selanjutnya...

Makam Sultan Hasanuddin

SULTAN Hasanuddin adalah satu dari sekian banyak Raja Gowa yang mengalami masa paling pahit. Pada masanya, Gowa ditaklukkan dalam penjajahan. Ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk melawan. Makamnya ada di daerah Katangka.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT SULTAN HASANUDDIN

Sultan Hasanuddin (1631-1670) adalah Raja Gowa XVI. Ia mengalami masa terpahit dalam sejarah Kerajaan Gowa karena harus takluk terhadap Belanda untuk kepentingan monopoli dagang VOC. Namun karena keberaniannya, Sultan Hasanuddin dijuluki de haantjes van het oosten (ayam jantan dari timur).

Lahir pada 11 Januari 1631 di lingkungan kerajaan dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangeppe. Ia menggantikan ayahnya, Sultan Malikussaid, sebagai Raja Gowa pada usia 18 tahun dan mendapatkan gelar Sultan Hasanuddin.

Saat Sultan Hasanuddin naik tahta, VOC sedang berusaha menaklukkan kerajaan-kerajaan nusantara. Gowa dengan bandarnya yang besar menguasai jalur perdagangan. Belanda menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil untuk merebut Gowa. Mengambil manfaat dari perseteruan antarkerajaan itu, termasuk perseteruan Gowa dengan Bone.

Perang Makassar berkecamuk pada tahun 1655 sampai 1669. Kota ini sulit ditembus dari laut karena dilindungi oleh 17 benteng. Tetapi memasuki pertengahan tahun 1669, pasukan Gowa terjepit. Digempur dari laut oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Cornelis Speelman dan diserang dari darat oleh pasukan Kerajaan Bone pimpinan Aru Palaka.

Sultan Hasanuddin melawan habis-habisan dari Benteng Somba Opu. Karena isolasi total terhadap benteng, ribuan rakyatnya terancam mati. Ia pun terpaksa menerima opsi menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667. Dari 29 pasal, seluruhnya hanya menegaskan monopoli VOC.

Tahun 1669, Sultan Hasanuddin menanggalkan tahta dan diserahkan kepada putranya, I Mappasomba Daeng Nguraga Tumenanga ri Allu yang bergelar Sultan Amir Hamzah. Kemudian ia maju berperang bersama rakyatnya melawan Belanda dengan semboyan, "Lebih baik hancur lebur daripada dijajah orang."

Sultan Hasanuddin wafat di Gowa pada tanggal 12 Juni 1670 setelah menderita penyakit ari-ari. Jazadnya dimakamkan di Bukit Tinggimae pada lokasi bekas Istana Tamalate, kota raja pertama Kerajaan Gowa.


Sumber:
www.budaya.sulsel.go.id
www.indonesia.go.id

Baca Selanjutnya...

Makam Syeh Yusuf

SYEH Yusuf adalah pejuang multiras, multi negara, dan penganjur agama Islam yang gigih. Makamnya memiliki ciri makan tua. Uniknya, makam Syeh Yusuf di Gowa adalah satu dari lima versi makamnya yang lain yang tersebar di tiga negara.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT SYEH YUSUF

Syeh Yusuf lahir di Tallo (Makassar) pada 13 Juli 1626 (8 Syawal 1036 Hijriah). Nama kecilnya adala Muhammad Yusuf. Ibundanya bernama Aminah, puteri dari Gallarang, Moncongloe, Gowa. Sedangkan siapa ayahnya,sejarahwan masih memperdebatkannya hingga sekarang.

Saat ia lahir, Islam telah menjadi agama resmi Kesultanan Gowa. Keluarga Aminah adalah rakyat jelata. Kehidupan Yusuf kecil terangkat ketika ibunya itu dinikahi Sultan Alauddin, Sultan Gowa XIV. Ia mendapatkan pendidikan agama hingga dewasa dan menjadi penganjur Islam yang gigih.

Yusuf remaja adalah seorang yang pintar. Karena itu ia menjadi pengajar dan memiliki banyak murid. Ia juga seorang idealis yang antikolonialisme. Saat itu, VOC (Verenidge Oost-Indische Compagnie) atau Serikat Dagang Hindia Timur sedang gencar memonopoli perdagangan di nusantara, termasuk di Gowa. Suaranya lantang menentang Belanda.

Pada usia 18 tahun ia naik haji. Sepulang dari Mekah, ia singgah di Banten. Ia mengulangi kunjungannya pada tahun 1672 dan memutuskan untuk berjuang bersama Sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, melawan VOC setelah negerinya, Gowa, lebih dulu diporakporandakan.

Syeh Yusuf masih terus melawan bahkan ketika Sultan Ageng Tirtayasa telah dilumpuhkan. Pada 14 Desember 1683 barulah ia ditangkap di Sukapura, Tasikmalaya, dan diasingkan ke Batavia. September 1684, ia diasingkan ke Srilanka. Syeh Yusuf tak kapok, ia masih terus melawan Belanda di Srilanka. Juli 1993, ia bersama 49 pengikutnya dibuang lebih jauh lagi, ke Afrika Selatan.

Meski sudah jauh dari tanah kelahiran, Syeh Yusuf tetap melanjutkan aktifitasnya. Di tempat itu dia dan muridnya mengembangkan ajaran agama Islam. Selama enam tahun di Afrika Selatan, dia menghabisi sisa hidupnya dengan mengajarkan keadilan dan kedamaian. Berjuang bersama rakyat setempat melawan penjajahan di sana.

Syeh Yusuf wafat pada 23 Mei 1699 di usia 73 tahun. Sultan Banten dan Sultan Gowa berebut meminta Belanda untuk menguburkan jenazahnya. Pada 5 April 1704, peti yang membawa jenazah Syeh Yusuf tiba di Makassar dan segera dimakamkam di Lakiung, Gowa. Tapi benarkah itu jazad Syeh Yusuf yang terbaring? Sebab, makam Syeh Yusuf juga ada di Banten, Madura, Srilanka, dan Cape Town. Tuhan maha tahu.


Referensi:
www.myrmnews.com
www.republika.com
khalwatiyah-syekh-yusuf.or.id

Baca Selanjutnya...

Makam Pangeran Diponegoro

PANGERAN Diponegoro adalah pahlawan nasional berasal dari Jawa Tengah. Namun bumi Jawa sendiri tidak "memiliki" tubuhnya. Karena tubuh orang yang telah mengobarkan Perang Jawa itu dimakamkan di Kota Makassar.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

SEJARAH SINGKAT PERANG JAWA

Pangeran Diponegoro lahir di Jawa Tengah pada 11 November 1785. Ia merupakan putera Sultan Hamengkubuwono III. Saat pangeran lahir dan besar, seluruh wilayah nusantara telah berada dalam cengkraman penjajahan Belanda.

Pada Mei 1825, Pemerintah Hindia membuat jalan dari Yogyakarta ke Magelang. Pembangunan jalan itu melewati Tegalrejo, desa di mana Diponegoro tinggal. Di salah satu sektor, jalan itu melanggar kompleks makam leluhur Diponegoro. Pangeran ini marah dan memerintahkan pengikutnya mencabut patok-patok.

Dipenogoro dianggap memberontak. Pada 20 Juli 1825, pasukan Belanda mengepung kediamannya. Pangeran dan pengikutnya lari dan bersembunyi di Gua Selarong, perbatasan Bantul dan Kulonprogo. Sementara Belanda yang tidak berhasil menangkapnya, membakar habis desa.

Dari gua itulah Pangeran Diponegoro menyusun pasukan. Selanjutnya, selama lima tahun berperang melawan Belanda. Perang Diponegoro disebut juga perang Jawa (1825 1830), perang terbesar yang pernah terjadi sepanjang penjajahan Belanda di nusantara. Sebanyak 15 dari 19 pangeran di Yogyakarta ikut bergabung.

Pertempuran terbuka kerap berlangsung dengan sengit. Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Begitu sengitnya, bila pasukan Belanda dapat menguasai suatu wilayah pada siang hari, pasukan Diponegoro merebutnya kembali pada malam hari. Begitu sebaliknya. Jalur logistik dibangun, mesiu terus diproduksi.

Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan 23.000 serdadu. Tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan dengan strategi pengepungan. Dua tahun kemudian, Kyai Maja, pemimpin spiritual pasukan Diponegoro ditangkap. Menyusul Pangeran Mangkubumi dan Panglima Sentot Alibasyah menyerah.

Pada 28 Maret 1830, pasukan di bawah perintah Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Diponegoro menyatakan bersedia menyerah dengan syarat sisa anggota pasukannya dilepaskan. Ia ditangkap dan diasingkan ke Manado, lalu dipindahkan ke Makassar.

Sejak saat itulah, Perang Jawa dinyatakan berakhir. Perang besar ini menewaskan 8.000 serdadu Belanda, 7.000 serdadu Diponegoro, dan 200.000 warga Jawa. Setelah perang ini usai, penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.

Pangeran Diponegoro disekap di Benteng Fort Rotterdam hingga ia meninggal dunia pada udia 70 tahun, tepatnya 8 Januari 1855. Jenazahnya dimakamkan di Kampung Jerra yang sekarang menjadi Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Makassar. Di situ pula dimakamkan pengikut dan turunannya.


Referensi
www.depdagri.go.id
Baca Selanjutnya...

Monumen Korban 40.000 Jiwa

TAHUN 1946-1947 adalah lembaran kelam bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Sebanyak 40.000 orang dibantai dalam sebuah operasi penumpasan pemberontak oleh pasukan khusus Belanda yang dipimpin Westerling. Monumen Korban 40.000 Jiwa berdiri sebagai pengingat peristiwa itu.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

Sejarah Singkat Pembantaian Rakyat

Saat para pemimpin kemerdekaan Indonesia sedang berunding dengan Belanda di Linggarjati (1946), perlawanan rakyat terus berkecamuk di luar Jawa. Termasuk di Sulawesi Selatan. Hampir setiap malam terjadi serangan dan penembakan terhadap pos-pos pertahanan tentara Belanda.

Pada 9 November 1946, markas besar KNIL di Batavia (Jakarta) memutuskan untuk mengirim pasukan khusus dari Depot Speciale Troepen (DST) dalam operasi counter insurgency (penumpasan pemberontakan). Pasukan dipimpin Kapten Raymond Westerling, seorang perwira Belanda berdarah Turki. Mereka tiba di Makassar pada 5 Desember 1946.

Aksi pertama operasi pasukan khusus DST dimulai pada malam 11 Desember 1946. Sasarannya adalah wilayah Batua serta beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar. Wilayah itu dikepung, rumah-rumah penduduk digeledah, dan seluruh rakyat digiring ke lahan terbuka. Sembilan orang yang berusaha melarikan diri langsung ditembak mati.

Westerling berbicara langsung kepada rakyat, diterjemahkan ke dalam bahasa Bugis dan Makassar. Ia menyodorkan daftar nama "pemberontak" kepada para kepala desa. Mereka dipaksa mengidentifikasi siapa dari rakyatnya yang terdapat dalam daftar itu. Di Batua, 35 orang yang dituduh pemberontak langsung dieksekusi di tempat.

Dengan pola yang sama, penyisiran terus dilakukan. Di wilayah Tanjung Bunga, 81 orang tewas dalam operasi malam 12 Desember. Di wilayah Kalukuang, 23 orang ditembak mati pada operasi 14 Desember. Di wilayah Jongaya, 33 orang dieksekusi di tempat pada operasi 16 Desember.

Setelah merasa bisa membersihkan Makassar, operasi dilanjutkan di daerah di luar Makassar. Polombangkeng diserbu pasukan khusus. Sebanyak 330 orang rakyat tewas dibunuh. Pada 26 Desember, Pasukan Westerling mulai menyerang Gowa. Korban tewas di Gowa berjumlah 257 orang. Penyisiran terus dilakukan hingga Kabupaten Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, dan Enrekang.

Pembantaian terbesar terjadi di Galung Lombok, Barru, pada 2 Februari 1947. Beberapa tokoh Pergerakan Kemerdekaan Indonesia direbahkan, ditodong bayonet, dan ditembak mati. Menyusul rakyat yang dikumpulkan di tanah lapang diberondong peluru yang dimuntahkan stangun. Tak ada laporan resmi jumlah korban. Tapi Pemerintah Republik Indonesia (RI) menyatakan ribuan orang tewas di tempat ini.

Pasukan khusus itu ditarik ke Batavia pada Maret 1947. Westerling disambut dengan gegap gempita. Media militer Belanda menyebut tahun itu sebagai tahun kemenangan gemilang atas pemberontakan kaum republik. "Si Turki Telah Kembali," demikian sebut mereka.

Di tahun yang sama, delegasi RI berpidato di hadapan Dewan Keamanan PBB. Korban pembantaian itu dilaporkan mencapai 40.000 jiwa. Tapi Pemerintah Belanda menyangkal. Menurut mereka, rakyat yang terbunuh hanya 3.000 orang. Westerling sendiri mengaku hanya membunuh 600 orang.

Baca Selanjutnya...

Monumen Mandala

MOMUNEN Mandala merupakan bangunan menara yang menjulang di pusat Kota Makassar. Ada relief dan diorama tentang pembebasan Irian Barat. Pengunjung juga dapat menyaksikan bentangan Kota Makassar dari ketinggian.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

Sejarah Perang Irian Barat

Mandala adalah nama pasukan yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto dalam Operasi Trikora, sebuah operasi yang dilancarkan dalam bentuk konfrontasi bersenjata melawan Belanda di Papua. Pemerintah Indonesia menyebutnya Operasi Pembebasan Irian Barat.

Setelah merdeka dari penjajahan Belanda tahun 1945, para pendiri negara Indonesia menyatakan Papua Barat (Papua timur adalah Papua New Guinea) adalah bagian dari Indonesia. Namun, pulau besar itu masih dikuasai Belanda dan dipersiapkan sebagai negara merdeka paling lambat tahun 1974.

Soekarno (presiden pertama) menyatakan hal itu adalah strategi Belanda (atau negara barat) untuk tetap menancapkan imperialisme setelah strategi kolonialisme gagal total. Negara Papua Barat dianggap sebagai negara boneka yang akan membayang-bayangi Indonesia merdeka.

Pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Soekarno mengumumkan pelaksanaan Trikora. Tujuannya menggagalkan pembentukan negara Papua Barat dan mengintegrasikannya ke dalam Indonesia. Soekarno membentuk Komando Mandala yang dipimpin oleh Soeharto. Komando ini bertugas melancarkan konfrontasi bersenjata melawan Belanda.

Makassar dipilih oleh Soeharto sebagai basis pasukan. Konfrontasi itu berlangsung selama dua tahun. Pada tahun 1963, setelah melalui pertempuran yang sengit, Indonesia dan Belanda melakukan perundingan di New York. Atas desakan Amerika Serikat, Belanda mengakui bahwa Papua Barat adalah bagian dari Indonesia.


Baca Selanjutnya...

Museum Kota Makassar

SEBUAH bangunan dua lantai bergaya Eropa abad ke-17 berdiri dengan gagah. Itulah Museum Kota Makassar. Di dalam gedung ini tersimpan 560 koleksi benda bersejarah yang merekam perjalanan Kota Makassar dari zaman ke zaman.

Artikel ini telah dipindahkan ke lokasi ini...

Sejarah Museum Kota Makassar

Gedung ini awalnya dibangun sebagai kantor pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia timur. Setelah Indonesia merdeka, gedung ini digunakan sebagai Balai Kota Makassar sebelum balaikota dipindahkan ke bekas kantor Gubernur Sulawesi di Jl Ahmad Yani. Pada tahun 1999, gedung itu ditetapkan sebagai gedung museum oleh Wali Kota Makassar, Amiruddin Maula.

Museum Kota Makassar diresmikan pada tanggal 7 Juni 2000. Saat ini aktif melayani keperluan wisatawan maupun warga Kota Makassar yang bermaksud melakukan studi sejarah.


Baca Selanjutnya...

Labels


  © Blogger template 'Contemplation' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP